Pendidikan

Selasa, 2 Juli 2019 - 17:45 WIB

4 bulan yang lalu

logo

Masalah Sistem Zonasi di SMAN 7 Halsel

Kurang Ruangan, Tes Perangkingan Gugurkan 106 Siswa Baru

SMA Negeri 7 Halmahera Selatan.

LEFO – Sistem zonasi yang diterapkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 51 tahun 2018 tentang penerimaan peserta didik baru (PPDB), kini menjadi masalah baru di SMA Negeri 7 Halmahera Selatan (Halsel).

Akibat aturan tersebut jumlah siswa baru di SMAN 7 Halsel membludak. Dari target penerimaan yang hanya 216 siswa baru, hasilnya ada sebanyak 330 siswa yang mendaftar. Padahal SMA Negeri 7 Halsel hanya mampu menampung 216 siswa baru sesuai enam ruang kelas belajar (RKB) yang tersedia. Untuk menekan angka tersebut, pihak sekolah lalu melakukan perangkingan (tes), dan akhirnya ada 106 siswa yang dinyatakan gugur.

Langkah yang diambil pihak sekolah tersebut mendapat protes puluhan orang tua murid dari 106 yang dinyatakan tidak lulus. Mereka meminta pihak sekolah agar menekan Dikjar atau Dikbud Provinsi untuk menambah RKB, dan tidak mengorbankan anak-anak mereka.

“Anak kami nanti sekolah dimana? Kalau sekolah lainnya sudah ditutup, apapun modelnya kami tidak mau melanggar peraturan menteri soal zonasi, maka Dikjar dan Dikbud harus ambil langkah, RKB baru solusinya,” tegas Masri Helmi orang tua wali murid, saat ditemui di SMA Negeri 7 Halsel, Selasa (2/7/2019).

Dalam aksi protes itu, sempat diwarnai keributan lantaran para ibu wali murid menghadang sejumlah guru karena anak mereka sudah tidak bisa bersekolah di tempat lain.

“Sangat bagus zonasi ini diterapkan karena dari sisi ekonomi kami diuntungkan, anak kami kesekolah hanya jalan kaki, tapi kalau tidak lulus, mereka sekolah dimana lagi,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 7 Halsel Ayub Embisa, ditemui di ruang kerjanya, menyampaikan pihaknya sangat senang jika sekolahnya kebanjiran peminat, namun pihaknya juga tidak bisa berbuat banyak karena sekolah yang dipimpinnya memiliki ruangan kelas belajar yang terbatas.

“Kita tidak bisa mengabaikan Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang sistem zonasi, tapi kita juga tidak bisa memaksa guru untuk sekolah pagi sore karena kurikulum K13 sudah diatur juga dengan jelas terkait jam mengajar guru,” terangnya.

Terlebih, pihaknya hanya memiliki 6 RKB untuk menampung 216 siswa dengan per RKB menampung 36 siswa, sehingga kurang lebih 106 siswa lainnya tidak bisa ditampung.
“Kami sudah buat pengajuan, namun tidak ada tanggapan. Kurang lebih 3 tahun tidak ada tambahan RKB baik dari Diknas maupun Dikjar,” ujarnya. (RR)

Baca Lainnya