Hukum

Kamis, 2 Mei 2019 - 10:02 WIB

6 bulan yang lalu

logo

266 Orang di Malut Tewas di Jalan Raya

LEFO – Kecelakaan  lalu lintas di Maluku Utara (Malut) masih tinggi. Kecelakaan terjadi lantaran pengendara lalai dengan aturan berlalulintas. Rata-rata yang celaka adalah pengendara roda dua dan didominasi pemuda-remaja.

Selain menerobos larangan dan berkecepatan tinggi, sebagian besar tidak mengenakan helm, sehingga kepala pengendara terbentur aspal ketika celaka dan membuatnya meninggal dunia.

Selama dua tahun, sebanyak 266 pengendara tewas di jalan raya akibat kecelakaan lalu lintas. Pada 2018, sedikitnya 256 kecelakaan di Malut yang mengakibatkan 166 meninggal dunia. Angka ini lebih tinggi dari 2017, yang mana terjadi 197 kecelakaan dan 100 meninggal dunia.

Kabid Humas Polda Malut, AKBP Hendri Badar mengungkapkan, pada 2018 polisi lalu lintas menilang 23,227 pelanggar dan yang mendapat teguran 24,426 pengendara. Sedangkan pada 2017, sebanyak 21, 570 pelanggar yang ditilang dan yang mendapat teguran 18,169 pengendara. “Tilang 2017 ke 2018 naik 8 persen dan teguran naik 35 persen,” jelasnya.

Menurut Hendri, setelah melihat angka kecelakaan yang kian tinggi, tahun 2019 ini pihaknya mengutamakan tindakan preventif terhadap pengendara. Targetnya agar kecelakaan lalu lintas dapat ditekan.

Tingginya kecelakaan lalu lintas mengundang perhatian akademisi. Sosiolog UMMU, Herman Oesman menuturkan, tingginya kecelakaan di jalan raya yang sebagian besar korbannya remaja, lebih disebabkan lemahnya regulasi yang diterapkan. Sejauh ini aturan lalu lintas belum kuat memberi efek jera bagi pengendara yang di dalamnya termasuk remaja dalam berkendaraan.

“Hal lain adalah di tengah masyarakat para remaja kehilangan role model dalam berlalulintas, karena hampir pasti aturan-aturan yang ada dilanggar,” ujarnya.

Bagi Herman, pendidikan keluarga menjadi amat vital untuk memberikan sosialisasi. Karena itu, pihak kepolisian perlu intens melakukan sosialisasi di kalangan keluarga dan juga institusi pendidikan. “Soal lalu lintas ini harus menjadi perhatian dan tanggung jawab besama,” tuturnya menyarankan.

Tingginya keinginan remaja berkendaraan ini direspons juga Ketua Bidang Pengembangan Keilmuan Himpunan Psikologi Indonesia Malut, Ulfah Magfirah. Ia menjelaskan, usia remaja adalah masa peralihan antara anak-anak dan dewasa. Di usia ini individu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, senang mencoba hal-hal baru dan senang menjadi pusat perhatian atau bahkan sengaja mencari perhatian.

“Jika dikaitkan dengan helm, remaja bisa jadi penasaran untuk mencoba. Kemungkinan ada remaja yang bilang, memangnya kenapa kalau saya tidak pakai helm. Belum lagi ada persepsi yang keliru tentang konsep keren di mata remaja. Seakan akan remaja yang keren adalah remaja yang berani berbeda,” jelas Ulfah.

Psikolog ini menawarkan solusi agar pengendara, khususnya remaja tentang fungsi helm. Pertama, sosialisasi dengan memberikan pemahaman pada remaja tentang fungsi helm yang tepat dan bahaya jika tidak menggunakan helm saat berkendaraan.

Kedua, desain helm yang modis agar remaja merasa keren saat memakai helm. Ketiga, konsisten dalam penerapan aturan pada pengendara. Yang tidak mengenakan helm harus diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku. (L-02)

 

 

 

 

 

Baca Lainnya