Gagasan

Kamis, 25 Juli 2019 - 21:24 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Diskusi Publik Sabtu Ini: Menelaah Kematian Mendiang Kiki

LEFO – Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Maluku Utara (Malut) bakal menggelar diskusi publik dengan tema, Menelaah Kematian Mendiang Kiki Kumala, Sabtu 27 Juli, Jam 21.00 WIT (Jam 09.00 malam) di Cafe Borneo Takoma, Kota Ternate.

Pemerkosaan dan pembunuhan yang dilakukan tersangka M. Irwan Tutuwarima alias Ronal kepada korban Gamaria W. Ibrahim alias Kiki, diangkat menjadi topik telaah dengan menghadirkan Kapolda Malut, Praktisi Hukum, Penggiat Organisasi Perempuan, Dishub Malut, Keluarga Korban dan Sosiolog, sebagai narasumber.

“Kami juga mengundang secara terbuka publik Malut untuk hadir dalam diskusi publik tersebut,” ujar Alfajri A. Rahman, Ketua DPD IMM Malut, Kamis (25/7/2019).

Kasus kematian Kiki Kumala yang sempat menyita perhatian publik Malut sengaja diangkat menjadi tema, menurut Alfajri, karena selama ini publik ingin tahu tentang jeratan hukum apa yang akan diterima oleh tersangka.

“Semua kalangan terus menyuarakan agar tersangka harus dihukum mati, maka telaah kasus ini ingin kita dengarkan secara bersama, bagaimana dan hendak dibawa kemana status tersangka yang telah melakukan tindakan bejat tersebut,” tambahnya.

Selain itu, Alfajri berharap diskusi ini menjadi bahan refleksi terhadap seluruh kalangan, khususnya kaum perempuan yang dihantaui pelecehan seksual, kekerasan, bahkan berujung pada kasus pembunuhan.

“Beragama kasus dialami kaum perempuan, hal ini menitikberatkan bahwa Malut dianggap darurat keamanan bagi kaum perempuan,” tegasnya.

Alfajri menilai, fenomena kasus ini semacam gunung es, nampak di permukaan sangat kecil, nyatanya tersimpan masalah besar. Disisi lain, mirisnya para pelaku atau tersangka tidak ada efek jera saat dikuhum dalam penjara. Lantaran setelah bebas yang bersangkutan kembali mengulangi tindak pidana bahkan yang lebih sadis.

“Sebagaimana dilakukan pelaku Ronal kepada almarhumah Kiki Kumala, yang kita ketahui tersangka merupakan residivis. Karena itu, kami berinsiatif mengagas diskusi publik untuk dijadikan gambaran melalui analisis para narasumber, sehingga dirangkum dalam satu bentuk rekomendasi nanti,” tutup Aji, sapaan akrab Alfajri. (*)

Baca Lainnya