Lingkungan

Selasa, 2 Juli 2019 - 14:36 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Pengelolaan dan Pembuangan Tailing di Moronopo Dinilai Tidak Maksimal

Lokasi tambang di Moronopo, Mabapura, Haltim.

LEFO – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lemhati Halmahera Timur, yang sebelumnya menyebut pihak perusahaan kontraktor PT Antam, yakni PT STM dan PT SDA telah melakukan pencemaran di seputaran Moronopo Desa Maba Pura Haltim, kini menilai pengelolaan dan pembuangan tailing oleh perusahaan tersebut belum maksimal. Akibatnya itu menimbulkan dampak lingkungan sangat besar.

Ketua Lemhati, Safrudin Malik, mengatakan sesuai temuan di lapangan pengelolaan dan pembuangan tailing oleh kedua perusahaan tersebut, di areal moronopo belum maksimal sehingga menimbulkan dampak lingkungan sangat besar.

“Tailing biasanya berbentuk lumpur di mana 40-70% komposisinya berupa cairan. Kegagalan dalam pengelolaan dan pembuangan tailing merupakan petaka bagi lingkungan hidup di sekitar tambang,” pungkasnya, Senin (1/7/2019).

Dikatakannya, masing-masing daerah tambang memiliki kondisi alam dan karakteristik yang berbeda. Dimana pengelolaan tailing pada tambang yang terletak di pegunungan tentu berbeda dengan tambang yang berada di dekat pantai. Untuk itu perusahaan pertambangan harus memperhatikan hal tersebut sehingga dapat menyiapkan desain pengelolaan dan pembuangan tailing yang tepat.

“Limbah yang dihasilkan dari proses tambang bervariasi, antara 10% hingga hampir 99% dari total bahan yang ditambang. Itulah mengapa aspek pengelolaan limbah atau tailing menjadi aspek vital dalam dunia pertambangan,” cetusnya.

Safrudin menambahkan, pihak perusahaan dalam menjalankan program corporate social responsibility (CSR) di bidang lingkungan, seharusnya melibatkan masyarakat agar ada sinergi positif antara perusahaan tambang dan masyarakat, sehingga nantinya dapat membuat upaya rehabilitasi lingkungan mencapai hasil yang lebih optimal.

“Apalagi kami menilai dana bagi hasil ke daerah tidak berimbang dengan kerusakan lingkungan, aktivitas pertambanganan di areal Moronopo menjadi kekhawatiran Lemhati. Jangan sampai kedepan masyarakat sudah tidak bisa konsumsi ikan di perairan Moronopo akibat pencemaran lingkungan sehingga air lau terkontaminasi dengan zat-zat beracun,” tegasnya.

Namun dalam menenggapi persoalan tersebut, pihak Antam melalui Asisten Manajer CSR, Antama Arisyono, mengatakan untuk pelaksanaan program CSR melalui bidang lingkungan, pihaknya telah mengembangkan produksi coconet lokal masyarakat lingkar tambang untuk mendukung mendukung kegiatan reklamasi.

“Kemudian untuk tim enviro, melibatkan karang taruna secara sewakelola dalam kegiatan penanaman pohon dan pemeliharaaan tanaman reklamasi,” akunya.

Dijelaskan juga, Antam melalui program CSR berupaya untuk membantu nelayan yang beroperasi di daerah perairan pertambangan dengan memberikan akses modal dan bantuan alat tangkap, serta pelatihan pengolahan ikan teri. Sehingga pihak nelayan terus melakukan aktivitas penangkapan ikan.

“Selain pemberdayaan nelayan, Antam juga melakukan pemberdayaan para petani kopra, dimana salah satu programnya adalah pengembangan produk coconet lokal, dengan memanfatkan sabu kelapa,” ujarnya.

Dari hasil tersebut, dibeli oleh pihak Antam dan digunakan untuk melakukan reklamasi areal bekas tambang, terutama pada daerah yang terjal dan berbatu. “Saat ini sudah 15 warga yang telah terlatih, dan sudah menghasilkan produk coconet,” pangkasnya. (yud)

Baca Lainnya