Kesehatan Pemerintahan

Sabtu, 29 Juni 2019 - 19:01 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Halsel Diserang Gizi Buruk, Bahrain Sibuk “Kampanye”

Bayi penderita gizi buruk asal Pulau Obi dalam rangkulan ibunya.

LEFO – Belum habis menjabat sebagai Bupati Halsel, Bahrain Kasuba akhir-akhir ini disibukkan dengan “kampanye” berupa sosialisasi diri dan klaim keberhasilannya sebagai Bupati Halmahera Selatan. Pada bulan Ramadan kemarin, saat acara buka puasa bersama masyarakat Togale tanggal 31 Mei, Bahrain secara terang-terangan meminta masyarakat Togale agar mendukungnya maju sebagai Bupati untuk periode kedua pada Pilkada serentak 2020 mendatang.

Bahkan saat menyampaikan sambutan dalam acara tersebut, Bahrain nampak sukuisme dengan mengatakan, “Jika orang Togale terpilih lagi sebagai Bupati Halsel, maka sekdanya juga orang Togale, agar semua kepentingan pemerintahan dan politik bisa terakomodir dengan baik selama pemerintahan ini berjalan.”

Tidak hanya itu, saat Rapat Paripurna digelar DPRD tanggal 10 Juni lalu, dengan agenda Rekomendasi DPRD Terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Tahun 2018, Bahrain kembali secara terang-terangan meminta restu kepada anggota DPRD Halsel untuk maju sebagai Bupati periode kedua. Bahrain mengklaim, demi kemajuan daerah yang dipimpin olehnya, dia berharap sinergitas antara DPRD dan Pemkab Halsel bisa berjalan lagi lima tahun kedepan. “Kita berharap ini bisa terjalin 5 tahun kedepan, maka mari kita lanjutkan,” ujar Bahrain saat itu.

Namun, Sosialisasi diri dan klaim keberhasilan ini tidak berbanding lurus dengan kondisi kesehatan yang terjadi di Halsel pada saat ini. Dimana, Masya Laudi (1,7 bulan) asal Desa Soligi Kecamatan Obi dan Muhammad Fahri (8 bulan) asal Desa Bobo Kecamatan Obi Selatan, harus menderita penyakit gizi buruk. Miris bahkan, Puskesmas tempat kedua balita tersebut dirawat, tidak bisa menyembuhkan penyakit yang dialami oleh kedua balita itu hingga harus dirujuk ke RSUD Labuha pada tanggal 18 Juni lalu.

Orang tua Masya, Laudi Warang dan Waete Lahamu, yang hanya petani kopra dan ibu rumah tangga akhirnya tidak bisa berbuat banyak terhadap nasib anaknya selain menerima saran dari dokter di puskesmas tempat anaknya dirawat. Namun lagi-lagi, akibat tidak memiliki biaya untuk mengobati anak mereka, Laudi dan Waete harus menunggu hingga 21 Juni untuk membawa Masya ke RSUD Labuha.

“Sakitnya sebelum bulan puasa. Kami sudah berobat di Puskesmas Obi setelah itu dirujuk ke rumah sakit Labuha. Disana (RSUD Labuha) dia (Masya) langsung diperiksa, setelah itu diberikan obat dan susu, Masya kemudian diminta kembali ke rumah dan tidak mendapatkan pelayanan rawat inap,” ujar Waete, Jumat (28/6/2019).

Besar harapan Waate dan suaminya Laudi untuk membawa Masya kembali ke rumah sakit, namun apa mau dikata, kondisi perekenomian keluarga memaksa mereka untuk kembali menunda pengobatan Masya. “Rencana mau bawa ke rumah sakit, tapi tidak ada doi (uang),” imbuh Waete.
Sedangkan balita Muhammad Fahri, ditemukan oleh petugas Puskesmas Babang saat melakukan kunjungan ke rumah-rumah warga. Disinyalir, karena tekanan ekonomi, orang tua Fahri tidak bisa memenuhi rujukan Puskesmas Obi Selatan untuk membawa anak mereka ke RSUD Labuha. Tapi Fahri masih bernasib baik, petugas Puskesmas Babang berinisiatif untuk membawa Fahri ke RSUD Labuha untuk mendapatkan perawatan.

Kasus gizi buruk yang menimpa Masya dan Fahri bukanlah baru pertama kali terjadi di Halsel, berkisar Mei 2018, seorang balita berusia tiga bulan, Nuraiyah Idham, juga mengalami hal yang sama. Bahkan saat itu, akibat dari penyakit gizi buruk tersebut, Nuraiyah hanya memiliki bobot 2,3 kilogram dan membuat bayi perempuan asal Desa Marabose tersebut terlihat berbeda dari bayi-bayi yang lain.

Dikutip dari databerita.id, kasus stunting (penyebab utamanya adalah kekurangan gizi kronis) di Kabupaten Halsel adalah yang paling tinggi di Provinsi Maluku Utara. Ada 20 desa di empat kecamatan yang ditemukan kasus stunting. Bahkan pada 2017, hasil pemantauan status gizi (PSG) menemukan sedikitnya 28 persen anak-anak di Halsel mengalami stunting dan jumlah tersebut meningkat di tahun 2018.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sebanyak 54 persen kematian bayi dan balita disebabkan oleh gizi buruk. Bahkan resiko kematian anak dengan gizi buruk 13 kali lebih besar dibandingkan anak normal. Maka Bupati Halsel Bahrain masih memiliki pekerjaan rumah besar disisa periodenya saat ini disamping klaim keberhasilannya yang semu. (RR/red)

Baca Lainnya