Hukum

Minggu, 5 Mei 2019 - 10:02 WIB

5 bulan yang lalu

logo

247 Peredaran Narkoba di Malut Diungkap

LEFO – Peredaran narkoba di Maluku Utara (Malut) bisa dibilang sulit dibendung. Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polri yang betugas membasmi barang haram itu harus benar-benar serius dan komitmen. Jika tidak, pemasok akan lebih gencar mendistribusi narkoba dari luar daerah ke Malut.

Agar ada efek jera, pelaku extra ordinary crime (kejahatan luar biasa) ini harus dihukum berat. Hukuman yang ringan tentu tidak membuat pelaku narkoba kapok. Tingginya peredaran narkoba di Malut bisa dilihat dari hasil penangkapan Polda Malut dua tahun terakhir.

Sedikitnya 165 kasus narkoba yang diungkap Polda pada 2018. Ini lebih tinggi dari penangkapan 2017 sebanyak 82 kasus. Tren penangkapan naik 83 kasus atau 101 persen.

Narkoba jenis sabu-sabu yang diamankan pada 2018 adalah 387,01 gram. Sedangkan narkoba jenis ganja yang disita 1652,695 gram, 2 pohon ganja ukuran kecil, 7 paket besar dan 1 paket kecil. Sementara narkoba jenis gorilla 7,61 gram.

Pada 2017 sabu-sabu yang diamankan 110,58 gram, 55 sachet kecil, 90 sachet sedang dan 30 sachet kecil, 11 paket kecil dan 10 plastik. Sedangkan ganja: 349,53 gram, 12 pohon ganja, 12 linting, 4 paket besar, 4 paket kecil, 9 bungkus kecil, 2 bungkus, 263 plastik sedang dan 66 ampel. jenis PCC sebanyak 998 butir. Sementara itu, pada awal 2019 ini sekitar 10 pelaku narkoba yang ditangkap.

Kabid Humas Polda Malut, AKBP Hendri Badar menuturkan, peran masyarakat sangat penting dalam membasmi narkoba. Tanpa dukungan masyarakat, BNN dan Polri tidak bisa berbuat banyak. Masyarakat wajib ikut mendukung dan terlibat dalam membasmi narkoba, demi menyelamatkan generasi penerus. “Karena narkoba ini merusak generasi penerus. Mari kita bergerak bersama untuk basmi narkoba. Jika ada masyarakat yang mengetahui atau anggota keluarganya pengguna narkoba, tolong laporkan ke aparat, agar yang bersangkutan bisa direhabilitasi,” tuturnya.

Praktisi Hukum Hendra Kasim menambahkan, narkoba dalam peredarannya melibatkan lebih dari satu Negara, sehingga kejahatan ini sering juga disebut sebagai kejahatan antara Negara (transnasional crime).

Sebab itu, dibutuhkan penanganan khusus agar narkoba tidak berkembang. “Strategi penanganan khusus yaitu penanganan utuh antara suplly reduction dan demand reduction. Suplly reduction adalah memutus mata raitai pemasok narkoba dari mulai produsen sampai dengan jaringannya. “Ini harus butuh ketegasan. Karena tidak jarang aparat justru menjadi pemasok dan pengedar dan Lapas sebagai tempat ditahannya para pelaku, malah menjadi tempat produksi narkoba,” ujarnya.

Demand reduction adalah memutus mata rantai para pengguna narkoba. Para pengguna berdasarkan Undang-Undang yaitu korban, sehingga mereka direhabilitasi, bukan dihukum.

Di Malut, menurut Hendra, sekalipun BNN dan Polisi gencar memberantas narkoba, namun peredarannya masih cukup tinggi. Bagi dia, ada yang aneh dengan itu. Kemungkinan yang ditangani bukan Bandar dan pemasok, tetapi pemakai dan pengedar kelas teri. “Atau mungkin ada oknum aparat yang ikut main dalam peredaran narkoba ini. BNN dan polisi harus fokus pada dua hal dalam pemberantasan narkoba, yakni suplly reduction dan demand reduction,” ujarnya menyarankan.(L-02)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Baca Lainnya