Humaniora

Senin, 12 November 2018 - 13:23 WIB

10 bulan yang lalu

logo

Melawat ke Marimbati Pante

DULU tempat ini dikenal dengan Pantai Marimbati. Dalam bahasa lokal disebut ‘Marimbati Pante’. Namun, banyak yang belum mengetahui, bahwa daerah ini merupakan sebuah desa yang secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Sahu.

Orang-orang dari Sahu banyak bertutur tentang desa ini. Salah satu warga di sana mengatakan pada saya, “Ini bukan Desa Marimbati, ini desa Lako Akediri. Desa ini juga memiliki sejarah.”

Sepanjang pantai, banyak tumbuh pohon kelapa dan sejumlah jenis pohon mangrove. Pantainya masih sangat asri. Banyak wisatawan yang belum mengetahui, bahwa lokasi ini juga masuk sebagai daerah destinasi wisata di Kabupaten Halmahera Barat.

Saya sudah sering ke daerah tersebut. Baru-baru ini, kalau tidak salah, tepatnya 11 November 2016, saya juga sempat datang ke sana. Selain menawarkan wisata alam, daerah ini juga menawarkan wisata sejarah.

Beberapa rumah adat berdiri kokoh di sana. Namun, sayangnya beberapa di antaranya sudah tampak tak terurus. Bangunan sejarahnya mulai menyusut diikuti cerita-cerita tentangnya yang juga mulai menyusut. Ongen, salah satu pemuda Lako Akediri yang berprofesi sebagai nelayan menceritakan kepada saya dengan nada kesal.

“Torang di sini sebenarnya masuk wilayah adat. Tapi, sayangnya kurang mendapat perhatian. Malah pemerintah kurang peduli dengan hal-hal sejarah di sini,” katanya.

Saya sempat memastikan hal ini pada sejumlah tokoh adat. Mereka membenarkan, bahwa sebenarnya wilayah Marimbati dan Desa Lako Akediri memiliki kaitan sejarah yang sangat erat dengan kesultanan Jailolo.

“Benar sekali. Daerah Marimbati dan Desa Lako Akediri ada kaitannya dengan sejarah kesultanan Jailolo. Dulu sebelum rumah besar (kedaton) kesultanan Jailolo dibangun, daerah itu dijadikan sebagai tempat tinggal Ou (sultan) dan beberapa Bobato (perangkat adat),” paparnya sambil berpesan kepada saya agar tidak menulis namanya.

Desa Lako Akediri sangat berpotensi dikenal luas oleh para wisatawan. Selain pantainya, lokasi ini juga terdapat sebuah sungai. Hulu sungai ini terdapat di Desa Gamtala, salah satu desa yang juga sudah ditetapkan sebagai destinasi wisata. Meski begitu, arus sungainya tidak terlalu deras. Sepanjang sungainya tumbuh pepohonan mangrove.

Saya juga menyaksikan langsung, warga di sana banyak yang memanfaatkan lokasi tersebut sebagai kebutuhan ekonomi. Mereka mengaku sering mencari ikan, udang dan bia (kerang). Hasil tangkapan tersebut hanya dipakai untuk makan sehari-hari, tidak untuk dijual.

Mereka juga sering menebang batang dan ranting kering pohon mangrove untuk dijadikan kayu bakar. Beberapa orang mengaku, mereka sangat antusias lokasinya sering dikunjungi. Hanya saja, daerah tersebut masih sangat sunyi. Sepertinya sunyi dari perhatian pemerintah dan wakil rakyatnya. (*)

Penulis: Rajif Duchlun

Sumber: jalamalut.com

Baca Lainnya